TIMES BOJONEGORO, BOJONEGORO – Pendidikan hari ini tampak sibuk. Kalender akademik penuh, kurikulum berganti, rapor dicetak, dan ujian terus berjalan. Namun di balik kesibukan itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah pendidikan benar-benar sedang mendidik, atau sekadar mengajar agar target administrasi terpenuhi?
Sekolah dan kampus sering kali terjebak pada rutinitas penyampaian materi. Guru dan dosen dikejar tuntutan silabus, sementara siswa dan mahasiswa diburu angka kelulusan. Proses belajar berubah menjadi perlombaan menyelesaikan modul, bukan perjalanan memahami makna. Pendidikan kehilangan ruhnya sebagai proses pembentukan manusia.
Kita terlalu memuja capaian kognitif dan melupakan dimensi reflektif. Nilai menjadi tujuan, bukan akibat dari proses belajar yang sehat. Akibatnya, peserta didik piawai menghafal, tetapi gagap berpikir. Mereka tahu banyak definisi, tetapi sulit mengaitkan pengetahuan dengan realitas sosial di sekitarnya.
Ironisnya, pendidikan juga semakin administratif. Guru lebih sibuk mengisi laporan ketimbang mendampingi murid. Dosen lebih banyak menyusun berkas akreditasi daripada berdialog intelektual dengan mahasiswa. Pendidikan dijalankan dengan logika birokrasi, bukan logika pedagogi.
Kondisi ini diperparah oleh standar yang seragam. Sekolah di kota dan di desa diukur dengan instrumen yang sama, seolah konteks sosial tidak penting. Padahal pendidikan tidak lahir di ruang hampa. Ia tumbuh dari realitas, budaya, dan kebutuhan lingkungan. Ketika konteks diabaikan, pendidikan berubah menjadi asing bagi peserta didik.
Teknologi yang seharusnya memperkaya proses belajar juga sering disalahpahami. Digitalisasi dianggap solusi instan, padahal hanya alat. Tanpa perubahan pendekatan, teknologi justru mempercepat pembelajaran yang dangkal. Siswa semakin cepat mengakses informasi, tetapi tidak diajarkan cara mengolahnya secara kritis.
Pendidikan akhirnya mencetak generasi yang responsif, tetapi tidak reflektif. Mereka cepat menjawab, tetapi lambat merenung. Padahal tantangan masa depan bukan sekadar soal pengetahuan, melainkan kemampuan berpikir, berempati, dan mengambil keputusan etis.
Masalah pendidikan bukan semata kekurangan anggaran atau fasilitas, tetapi krisis orientasi. Pendidikan terlalu diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja, sementara kebutuhan kemanusiaan diabaikan. Sekolah dipaksa mencetak tenaga siap pakai, bukan manusia yang siap berpikir.
Di ruang kelas, dialog sering tergantikan oleh ceramah satu arah. Guru menjadi pusat kebenaran, murid sekadar penerima. Padahal pendidikan sejati lahir dari percakapan, bukan indoktrinasi. Tanpa ruang bertanya dan berbeda pendapat, peserta didik kehilangan keberanian intelektual.
Pendidikan juga kerap abai pada ketimpangan. Anak-anak di daerah terpencil harus berjuang lebih keras hanya untuk sampai ke sekolah. Fasilitas terbatas, guru kurang, dan akses informasi minim. Namun mereka tetap dituntut memenuhi standar yang sama dengan sekolah unggulan di kota. Ketidakadilan ini jarang dibicarakan secara jujur.
Reformasi pendidikan seharusnya dimulai dari cara kita memandang peserta didik. Mereka bukan objek kebijakan, melainkan subjek pembelajaran. Pendidikan harus memberi ruang tumbuh, bukan sekadar menilai benar dan salah.
Guru dan dosen perlu dikembalikan pada perannya sebagai pendidik, bukan operator kurikulum. Mereka harus diberi kepercayaan untuk berinovasi sesuai konteks, bukan dibelenggu oleh target administratif. Pendidikan tidak akan hidup jika pendidiknya sendiri kehilangan otonomi berpikir.
Pendidikan bukan tentang seberapa cepat materi selesai, tetapi seberapa dalam makna dipahami. Bukan tentang seberapa tinggi nilai dicapai, tetapi seberapa besar kesadaran tumbuh. Pendidikan yang sejati adalah yang mampu memanusiakan manusia.
Jika pendidikan terus terjebak pada rutinitas mengajar tanpa mendidik, kita hanya akan melahirkan generasi yang pintar secara teknis, tetapi rapuh secara nilai. Dan bangsa yang besar tidak dibangun oleh angka-angka di rapor, melainkan oleh manusia yang berpikir, peduli, dan bertanggung jawab.
***
*) Oleh : Ida Fauziyah, Guru MI Alam Al Azhar Sumberrejo, Bojonegoro.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |