https://bojonegoro.times.co.id/
Opini

Sekolah di Telapak Jempol

Sabtu, 17 Januari 2026 - 18:00
Sekolah di Telapak Jempol Ida Fauziyah, Guru MI Alam Al Azhar Sumberrejo, Bojonegoro.

TIMES BOJONEGORO, BOJONEGORO – Dulu, pendidikan identik dengan papan tulis, kapur, dan bangku kayu yang berderit pelan setiap kali murid gelisah. Hari ini, ruang kelas berpindah ke layar lima inci. Guru baru bernama algoritma, buku pelajaran menjelma video 30 detik, dan ujian harian sering berbentuk “viral atau tidak”. Media sosial telah menjadi sekolah tanpa gedung, tanpa bel, tanpa kurikulum resmi namun dengan murid terbanyak dalam sejarah manusia.

Di satu sisi, ini adalah keajaiban. Anak desa bisa belajar desain grafis dari kreator di Seoul, memahami sains dari profesor di Boston, atau mengasah bahasa asing dari percakapan lintas benua. 

Media sosial membuka jendela dunia yang dulu hanya bisa dibayangkan lewat atlas kusam di perpustakaan sekolah. Ia demokratis, murah, dan cepat. Pengetahuan tidak lagi menunggu izin lembaga; ia berlari sendiri mencari siapa pun yang mau menonton.

Namun di sisi lain, sekolah bernama media sosial ini juga penuh jebakan. Ia tidak mengajarkan kesabaran, melainkan kecepatan. Tidak menumbuhkan kedalaman, tetapi keramaian. Yang laku bukan selalu yang benar, melainkan yang paling menggugah emosi. Pendidikan pun perlahan bergeser dari proses memahami menjadi perlombaan menarik perhatian. Murid belajar cara tampil, bukan cara berpikir.

Scroll menjadi metode belajar baru: cepat, dangkal, dan sering lupa. Hari ini paham sedikit tentang sejarah, besok tentang ekonomi, lusa tentang psikologi semuanya sepotong-sepotong seperti puzzle yang tercecer. 

Pengetahuan tidak disusun, hanya dilewati. Otak kenyang informasi, tetapi lapar pemahaman. Seperti makan mie instan tiga kali sehari: cepat, mengenyangkan sesaat, tapi miskin gizi intelektual.

Di sinilah paradoks pendidikan era media sosial. Akses meluas, tetapi fokus menyempit. Materi melimpah, tetapi perhatian menipis. Anak-anak bisa menonton ratusan video edukasi, namun kesulitan membaca sepuluh halaman buku tanpa tergoda notifikasi. Konsentrasi menjadi barang mewah, sementara distraksi dijual murah setiap detik.

Lebih dari itu, media sosial juga diam-diam mengajarkan kurikulum tersembunyi: bahwa nilai diri diukur dari jumlah like, bahwa pendapat paling keras sering dianggap paling benar, bahwa validasi publik lebih penting daripada ketepatan berpikir. 

Ini pendidikan tanpa rapor, tetapi dengan dampak psikologis yang panjang. Banyak anak tumbuh cerdas secara digital, namun rapuh secara mental mudah cemas, takut tertinggal tren, dan gelisah bila tak diperhatikan.

Guru dan sekolah pun sering tertinggal satu langkah. Kurikulum masih sibuk mengejar target materi, sementara siswa sudah hidup di ekosistem digital yang jauh lebih kompleks. Di kelas diajarkan etika Pancasila, di luar kelas anak belajar debat kasar dari kolom komentar. Di buku teks dijelaskan logika berpikir, di timeline mereka dicekoki potongan opini yang saling membunuh. Pendidikan formal berjalan pelan, media sosial berlari tanpa rem.

Masalahnya bukan pada media sosial itu sendiri, melainkan pada ketiadaan kompas. Anak dilepas berenang di samudra informasi tanpa peta, tanpa pelampung literasi. Mereka diajari cara menggunakan aplikasi, tetapi tidak cukup dibekali cara menyaring makna. Padahal, di era ini, kemampuan terpenting bukan lagi menghafal, melainkan memilah: mana fakta, mana manipulasi; mana kritik, mana kebencian; mana ilmu, mana ilusi.

Pendidikan seharusnya tidak memusuhi media sosial, tetapi menaklukkannya. Menjadikannya ruang belajar, bukan hanya panggung pamer. Sekolah bisa mengajarkan cara membuat konten edukatif, bukan sekadar melarang TikTok. Guru bisa mengajak siswa menganalisis hoaks, bukan hanya menghafal definisi literasi digital. Orang tua bisa berdialog, bukan hanya memarahi layar di tangan anak.

Media sosial, jika dikelola dengan nalar, bisa menjadi perpustakaan hidup. Di sana ada diskusi, tutorial, bahkan kelas gratis yang tak pernah libur. Tetapi tanpa pendampingan, ia berubah menjadi pasar malam: ramai, bising, penuh lampu, namun sering menipu indera. Pendidikan harus hadir sebagai penjaga malam, memastikan anak tidak tersesat di keramaian.

Pertanyaannya bukan lagi apakah media sosial bagian dari pendidikan, melainkan pendidikan macam apa yang sedang ia ajarkan pada kita semua. Jika yang diwariskan hanyalah budaya instan, dangkal, dan haus validasi, maka kita sedang mencetak generasi yang cepat terkenal tetapi lambat memahami.

Namun jika sekolah, keluarga, dan negara mampu menanamkan nalar kritis di tengah riuh notifikasi, media sosial bisa menjadi papan tulis raksasa bagi peradaban baru. Tempat anak-anak tidak hanya belajar cara tampil, tetapi juga cara berpikir. 

Tidak hanya mencari sorotan, tetapi juga kebenaran. Sebab di zaman ketika jempol lebih sering bergerak daripada kepala, pendidikan sejati justru diuji: mampukah ia membuat manusia tetap berpikir sebelum menekan tombol “bagikan”?

***

*) Oleh : Ida Fauziyah, Guru MI Alam Al Azhar Sumberrejo, Bojonegoro.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Bojonegoro just now

Welcome to TIMES Bojonegoro

TIMES Bojonegoro is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.