Mendidik dengan Jari
Teknologi adalah alat. Ia bukan tujuan. Pendidikan tidak boleh berhenti pada “pintarnya platform” atau “canggihnya aplikasi.”
Bojonegoro – Di masa lalu, guru mendidik dengan kapur putih yang menari di papan tulis. Suaranya menggema di ruang kelas, langkahnya berkeliling dari bangku ke bangku, dan tatapannya menjadi alarm bagi murid yang mulai kehilangan fokus.
Dulu, mengajar adalah seni yang hidup di ruang fisik: suara, gestur, dan kehadiran. Tetapi zaman bergerak cepat. Dunia pendidikan ikut berlari, dan hari ini guru tak lagi hanya mendidik dengan suara, melainkan juga dengan jari.
Jari yang dimaksud bukan sekadar jari biasa, melainkan jari yang akrab dengan layar, tombol, dan notifikasi. Jari yang setiap hari menari di atas gawai. Jari yang menekan tombol “kirim” pada tugas, materi, video pembelajaran, dan pengumuman sekolah. Jari yang bahkan kadang lebih sering bergerak dibanding kaki yang melangkah di kelas. Inilah fenomena baru pendidikan modern: mendidik dengan jari.
Sekilas, ini tampak seperti kemajuan. Teknologi memang menawarkan jalan pintas yang menggiurkan. Materi bisa dibagikan hanya dalam hitungan detik. Guru tidak perlu membawa tumpukan buku atau lembar kerja yang berat.
Cukup mengunggah file PDF, tautan video, atau presentasi. Murid pun bisa belajar kapan saja, dari mana saja. Ruang kelas kini tidak lagi berbatas tembok, tetapi menjelma menjadi ruang digital yang luas dan tanpa pintu.
Namun di balik kemudahan itu, ada pertanyaan yang lebih dalam: apakah pendidikan benar-benar menjadi lebih mudah, atau justru menjadi lebih rumit dalam bentuk yang berbeda?
Di era modern, guru seolah memiliki dua ruang kelas sekaligus. Ruang kelas pertama adalah kelas nyata: bangku, papan tulis, dan tatapan murid. Ruang kelas kedua adalah kelas maya: grup WhatsApp, Google Classroom, email, dan platform pembelajaran lain yang tidak pernah tidur.
Jika kelas nyata selesai ketika bel berbunyi, kelas maya tidak mengenal bel. Ia aktif setiap saat. Bahkan di tengah malam, guru masih bisa menerima pesan: “Bu, tugasnya yang mana?” atau “Pak, ini jawabannya benar tidak?”
Teknologi membuat pendidikan semakin cepat, tetapi juga membuat beban guru semakin panjang. Guru bukan lagi sekadar pendidik, tetapi juga admin digital, editor konten, operator sistem, bahkan kadang menjadi customer service bagi orang tua murid yang panik karena anaknya tertinggal tugas. Dalam kondisi seperti ini, guru mendidik bukan hanya dengan ilmu, tetapi juga dengan kesabaran ekstra yang sering kali tidak tertulis di kurikulum.
Di sisi lain, teknologi juga mengubah cara murid belajar. Murid kini hidup di era yang serba visual. Mereka lebih cepat memahami lewat video daripada lewat teks panjang. Mereka lebih tertarik pada animasi daripada penjelasan panjang. Mereka terbiasa dengan dunia yang bergerak cepat, dengan konten yang hanya berdurasi satu menit. Akibatnya, sekolah sering terasa seperti kaset lama yang diputar di zaman streaming.
Maka guru dituntut kreatif. Guru harus mampu menyesuaikan diri. Ia harus bisa membuat materi yang tidak membosankan. Ia harus bisa menjelaskan konsep sulit dengan bahasa sederhana. Ia harus bisa mengubah pelajaran menjadi sesuatu yang “menarik”, seolah pendidikan kini harus bersaing dengan TikTok, Instagram, dan YouTube.
Dan di sinilah jari guru menjadi simbol baru perjuangan. Jari guru bukan hanya menekan tombol, tetapi menekan batas kesabaran. Jari guru bukan hanya mengetik materi, tetapi mengetik harapan. Jari guru bukan hanya mengirim file, tetapi mengirim cahaya kecil agar muridnya tidak tersesat di era banjir informasi.
Namun kita juga perlu jujur: teknologi tidak selalu membawa berkah. Teknologi adalah pisau bermata dua. Ia bisa menjadi jembatan ilmu, tetapi juga bisa menjadi jurang yang memisahkan.
Tidak semua murid memiliki akses yang sama. Ada yang punya ponsel canggih, kuota berlimpah, dan sinyal stabil. Ada pula yang harus berbagi gawai dengan orang tua, menunggu giliran, atau mencari sinyal di sudut kampung. Ketika pendidikan bergerak ke ruang digital, ketimpangan sosial ikut terbawa. Sekolah yang seharusnya menjadi alat pemerataan, kadang tanpa sadar malah memperlebar jarak.
Teknologi juga menghadirkan tantangan baru dalam disiplin belajar. Murid membuka gawai untuk belajar, tetapi di layar yang sama ada game, ada notifikasi media sosial, ada video hiburan. Belajar kini bersaing langsung dengan distraksi. Jika dulu murid kehilangan fokus karena melamun, hari ini murid kehilangan fokus karena dunia digital selalu memanggil.
Dalam perspektif pedagogik, teknologi seharusnya menjadi alat bantu untuk memperkuat pembelajaran aktif. Ia harus mendorong kolaborasi, diskusi, dan eksplorasi. Tetapi jika teknologi hanya dipakai sebagai alat transfer tugas dan materi, maka pendidikan digital hanya menjadi versi modern dari metode lama: guru mengirim, murid menerima, lalu selesai. Itu bukan pendidikan yang membebaskan. Itu hanya pendidikan yang memindahkan beban ke layar.
Karena itu, mendidik dengan jari tidak boleh berarti mengajar tanpa jiwa. Guru boleh menggunakan teknologi, tetapi tidak boleh kehilangan ruh pendidikan: dialog, empati, dan perhatian. Sebab yang dibutuhkan murid bukan hanya file dan tautan, melainkan bimbingan. Murid tidak hanya butuh jawaban, tetapi butuh arah.
Jari guru bisa mengirim materi, tetapi hati guru yang membuat murid merasa dihargai. Jari guru bisa menulis penjelasan, tetapi ketulusan guru yang membuat murid percaya diri. Jari guru bisa menekan tombol “kirim”, tetapi keteladanan guru yang menekan tombol kehidupan murid menuju masa depan.
Di tengah semua perubahan ini, guru sebenarnya sedang melakukan hal besar: menyesuaikan diri dengan zaman tanpa kehilangan nilai. Guru sedang berusaha tetap relevan. Ia seperti pelaut tua yang harus mengemudikan kapal di lautan teknologi yang gelombangnya tidak menentu. Ia harus tetap menjaga arah, meski kompas moral pendidikan sering terguncang oleh tuntutan digital.
Baca juga
Teknologi adalah alat. Ia bukan tujuan. Pendidikan tidak boleh berhenti pada “pintarnya platform” atau “canggihnya aplikasi.” Pendidikan harus tetap berorientasi pada manusia. Sebab pendidikan bukan soal seberapa cepat informasi berpindah, tetapi seberapa dalam makna tumbuh.
Mendidik dengan jari adalah tanda zaman. Tetapi mendidik dengan hati adalah tanda peradaban. Karena sekolah yang hebat bukan sekolah yang paling digital, melainkan sekolah yang paling mampu memanusiakan manusia baik lewat papan tulis maupun lewat layar, baik lewat kapur maupun lewat jempol.
***
*) Oleh : Ida Fauziyah, Guru MI Alam Al Azhar Sumberrejo, Bojonegoro.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.


