Pangkat Terbaik bagi Seorang Guru
Ida Fauziyah, Guru MI Alam Al Azhar Sumberrejo, Bojonegoro.

Pangkat Terbaik bagi Seorang Guru

Jika pangkat diukur dari jumlah murid yang berhasil, jumlah karakter yang dibentuk, jumlah mimpi yang diselamatkan, maka banyak guru sederhana di pelosok desa sebenarnya sudah berada di pangkat tertinggi.

TIMES Bojonegoro,Selasa 10 Februari 2026, 19:17 WIB
165
H
Hainor Rahman

BojonegoroDi negeri ini, pangkat sering dianggap sebagai puncak. Semakin tinggi golongan, semakin besar penghargaan. Semakin banyak titel, semakin kuat wibawa. Dalam banyak profesi, pangkat menjadi ukuran keberhasilan, menjadi tanda bahwa seseorang telah “sampai” pada garis finish yang diimpikan. Namun bagi seorang guru, pertanyaan tentang pangkat seharusnya tidak sesederhana itu.

Sebab guru bukan sekadar profesi administratif yang hidup dari surat keputusan dan angka kredit. Guru adalah pekerjaan jiwa. Ia bekerja bukan hanya dengan tangan dan pikiran, tetapi juga dengan hati. 

Guru tidak sekadar mengajar pelajaran, melainkan ikut membentuk masa depan. Maka pangkat terbaik bagi seorang guru bukanlah sekadar deretan angka dalam struktur birokrasi, melainkan jejak yang ia tinggalkan dalam kehidupan murid-muridnya.

Kita sering lupa, di balik papan tulis ada doa yang tak pernah ditulis. Di balik tumpukan tugas ada kesabaran yang tidak pernah dihitung. Di balik rapor yang dibagikan ada perjuangan panjang yang kadang tidak pernah dihargai.

Seorang guru bisa saja naik pangkat setiap beberapa tahun. Tetapi jika ilmunya tidak naik, jika kepekaannya tidak bertambah, jika kepeduliannya semakin menipis, maka pangkat itu hanya pakaian luar yang indah tetapi kosong. Karena guru sejatinya bukan hanya soal mengajar, melainkan tentang menemani manusia tumbuh.

Pangkat terbaik bagi seorang guru adalah ketika ia menjadi tempat murid merasa aman. Ketika seorang anak yang rapuh datang ke sekolah dan menemukan seseorang yang tidak sekadar menilai, tetapi memahami. Ketika seorang anak yang kehilangan percaya diri menemukan satu kalimat sederhana dari gurunya: “Kamu bisa.”

Kalimat itu mungkin terlihat kecil. Tetapi bagi seorang murid, kalimat itu bisa menjadi jembatan panjang menuju masa depan. Di situlah letak pangkat yang tidak pernah tertulis dalam dokumen negara: pangkat sebagai penyalakan harapan.

Hari ini, kita hidup di tengah sistem pendidikan yang sering terlalu sibuk mengukur angka. Nilai ujian, ranking kelas, capaian kurikulum, akreditasi sekolah, target kompetensi. Semua diatur rapi. Semua dihitung detail. Tapi yang sering tertinggal adalah pertanyaan paling penting: apakah anak-anak kita tumbuh sebagai manusia yang utuh?

Guru pun akhirnya ikut terseret dalam arus itu. Banyak yang kelelahan, bukan karena mengajar, tetapi karena harus mengejar administrasi yang tak habis-habis. Seolah guru lebih sering diminta mengisi berkas daripada mengisi hati murid. Padahal pendidikan bukan pabrik. Anak bukan produk. Sekolah bukan mesin. Dan guru bukan operator sistem. Guru adalah pelita.

Sayangnya, pelita sering dipaksa bersinar tanpa diberi minyak. Guru diminta sabar tanpa dukungan. Guru diminta profesional tanpa fasilitas. Guru diminta menjadi teladan, tetapi kadang kesejahteraannya masih seperti perjuangan.

Maka ketika kita bicara pangkat terbaik bagi seorang guru, kita tidak boleh memisahkan dari kenyataan bahwa guru juga manusia. Ia butuh penghargaan yang layak. Ia butuh ruang berkembang. Ia butuh sistem yang adil. Sebab sulit meminta seorang guru menumbuhkan generasi unggul jika gurunya sendiri diperlakukan seperti pelengkap. Namun meski begitu, sejarah membuktikan bahwa guru selalu punya cara untuk tetap menjadi besar, bahkan ketika sistem tidak selalu ramah.

Guru yang hebat tidak menunggu pangkat untuk berbuat baik. Ia tidak menunggu sertifikat untuk peduli. Ia tidak menunggu kenaikan jabatan untuk menjadi inspirasi. Ia tetap mengajar dengan sepenuh hati meski gajinya tak seberapa. Ia tetap datang tepat waktu meski lelah. Ia tetap mendengarkan murid yang bermasalah meski tugasnya menumpuk. Pangkat terbaik bagi guru adalah ketika ia tetap setia pada panggilan, bahkan ketika dunia tidak selalu memberi tepuk tangan.

Karena sejatinya, guru bukan dibayar hanya dengan uang. Guru dibayar juga oleh keberhasilan muridnya. Oleh kabar baik yang datang bertahun-tahun kemudian: murid yang dulu nakal ternyata tumbuh menjadi orang baik. 

Murid yang dulu pemalu ternyata menjadi pemimpin. Murid yang dulu sering tertinggal ternyata menjadi pengusaha, dokter, penulis, atau bahkan menjadi guru lagi. Dan di titik itulah seorang guru sadar, bahwa pekerjaannya tidak pernah sia-sia.

Pangkat terbaik bagi seorang guru adalah pangkat yang hidup dalam ingatan murid. Pangkat yang tidak bisa dicabut oleh aturan. Pangkat yang tidak bisa digeser oleh politik. Pangkat yang tidak bisa runtuh oleh waktu. Pangkat itu bernama “guru yang dirindukan.”

Guru yang jika disebut namanya, murid tersenyum karena teringat kebaikannya. Guru yang jika dikenang, membuat murid merasa pernah dicintai dalam proses belajar. Guru yang tidak hanya mengajar matematika, bahasa, atau sejarah, tetapi juga mengajarkan keberanian, kejujuran, dan cara bertahan hidup.

Dalam hidup, tidak semua orang beruntung bertemu guru seperti itu. Tetapi sekali bertemu, hidup seseorang bisa berubah. Dan itulah kekuatan seorang guru.

Kita boleh membuat banyak gelar, banyak pangkat, banyak penghargaan. Tetapi pangkat terbaik tetaplah yang tidak bisa dibeli dan tidak bisa dipalsukan: keteladanan. Sebab murid tidak selalu mengingat apa yang diajarkan, tetapi murid selalu mengingat bagaimana ia diperlakukan.

Jika guru mengajar dengan marah, murid akan belajar takut. Jika guru mengajar dengan hinaan, murid akan belajar rendah diri. Tetapi jika guru mengajar dengan kasih, murid akan belajar percaya diri. Jika guru mengajar dengan ketulusan, murid akan belajar menghargai kehidupan.

Pangkat terbaik bagi seorang guru bukanlah “pembina utama”, bukan “kepala sekolah”, bukan “pengawas”, bukan “dosen tamu”, bukan pula “narasumber nasional”. Pangkat terbaik bagi seorang guru adalah ketika ia menjadi manusia yang menghidupkan manusia lain.

Dan pada akhirnya, kita harus jujur: negara boleh memberi pangkat setinggi apa pun, tetapi masyarakatlah yang menentukan kehormatan seorang guru. Kehormatan itu lahir dari pengabdian yang nyata, dari kesabaran yang panjang, dan dari ketulusan yang tidak dibuat-buat. Karena guru yang hebat bukan yang paling tinggi pangkatnya, tetapi yang paling dalam pengaruhnya.

Jika pangkat diukur dari jumlah murid yang berhasil, jumlah karakter yang dibentuk, jumlah mimpi yang diselamatkan, maka banyak guru sederhana di pelosok desa sebenarnya sudah berada di pangkat tertinggi.

Mereka mungkin tidak punya kantor mewah. Tidak punya gelar panjang. Tidak punya panggung besar. Tetapi mereka punya sesuatu yang jauh lebih mulia: mereka menanam masa depan. Dan itu adalah pangkat yang tidak pernah bisa ditandingi oleh jabatan apa pun.

***

*) Oleh : Ida Fauziyah, Guru MI Alam Al Azhar Sumberrejo, Bojonegoro.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Hainor Rahman
|
Editor:Hainor Rahman

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Bojonegoro, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.