Kultum Ilmu Cepat Saji di TikTok
TikTok boleh menjadi tempat kultum. Tapi jangan sampai iman kita ikut menjadi konten yang habis dalam sekali scroll.
BOJONEGORO – Ramadan selalu punya cara unik untuk memperbanyak “panggung dakwah”. Kalau dulu kultum identik dengan mimbar masjid selepas tarawih atau ceramah singkat menjelang berbuka, hari ini kita menemukan bentuk baru yang jauh lebih cepat, lebih ringan, dan lebih viral: kultum TikTok.
Durasi 30 detik sampai 3 menit, dibungkus musik latar yang menyentuh, ditambah teks berjalan yang menggugah, lalu ditutup dengan kalimat pamungkas yang sering membuat orang spontan berkomentar, “MasyaAllah, merinding.”
TikTok memang seperti pasar malam: ramai, meriah, dan penuh kejutan. Di sana, ilmu agama bisa datang lewat algoritma, bukan lewat guru. Kadang kita baru membuka aplikasi untuk mencari hiburan, tetapi tiba-tiba disodori video tentang dosa ghibah, adab puasa, atau kisah Nabi yang menyayat hati.
Dari sini muncul fenomena baru: kultum menjadi “ilmu cepat saji.” Mudah diakses, cepat ditelan, dan kadang terasa nikmat. Tapi seperti makanan cepat saji, semakin sering dikonsumsi tanpa kontrol, ia bisa memberi dampak yang tidak sederhana.
Tidak bisa dipungkiri, kultum TikTok punya sisi positif yang besar. Ia membuka akses dakwah lebih luas. Anak muda yang jarang ke masjid bisa tersentuh oleh satu video singkat. Orang yang sibuk kerja bisa tetap mendapat nasihat agama di sela perjalanan.
Bahkan mereka yang baru belajar Islam bisa menemukan pintu awal untuk mengenal ajaran agama. Dalam konteks ini, TikTok menjadi “jalan dakwah baru” yang lebih fleksibel. Ia tidak memaksa orang duduk satu jam, cukup beberapa menit, tapi bisa meninggalkan bekas.
Masalahnya, ilmu agama bukan sekadar soal “bekas emosional.” Ilmu agama adalah pondasi berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan hidup. Ia tidak cukup hanya membuat hati tersentuh, tetapi juga harus membuat akal tercerahkan.
Di sinilah tantangan kultum TikTok muncul. Banyak video agama yang viral karena menyentuh emosi, bukan karena ketepatan dalil. Banyak yang laku karena dramatis, bukan karena akurat. Banyak yang ramai karena “menghakimi,” bukan karena menuntun.
Di era algoritma, kebenaran sering kalah cepat dari sensasi. Yang cepat menyebar bukan selalu yang benar, tapi yang paling memancing reaksi. Maka kita melihat munculnya ceramah-ceramah pendek yang kadang terlalu hitam-putih: seolah dunia hanya terbagi menjadi dua kubu, surga dan neraka, tanpa ruang dialog.
Dalam 60 detik, seseorang bisa dengan mudah menyimpulkan hukum agama yang sebenarnya rumit. Padahal dalam tradisi keilmuan Islam, satu hukum bisa dibahas berlembar-lembar kitab, melibatkan qiyas, ijtihad, perbedaan mazhab, dan konteks sosial.
TikTok tidak salah. Masalahnya adalah ketika ruang yang sempit dipaksa menampung lautan ilmu. Seperti mencoba memasukkan samudra ke dalam gelas plastik. Yang tertampung hanya sedikit, sisanya tumpah, dan sering kali yang tumpah justru berupa salah paham.
Fenomena ini melahirkan generasi baru: generasi “ustaz scroll.” Mereka belajar agama dengan cara menggeser layar, bukan dengan membuka kitab. Mereka hafal potongan ayat, tapi tidak memahami konteksnya.
Mereka tahu satu hadis, tapi tidak tahu kualitas sanadnya. Mereka fasih berkata “haram” dan “bid’ah,” tetapi gagap ketika diminta menjelaskan dalil dan pendapat ulama. Ironisnya, semakin sedikit ilmu seseorang, semakin percaya diri ia mengomentari agama orang lain.
Di sinilah letak bahaya terbesar kultum cepat saji: ia bisa melahirkan kesalehan instan yang dangkal. Kesalehan yang lebih sibuk memperbaiki orang lain daripada memperbaiki diri sendiri. Kesalehan yang gemar mengutip dalil untuk menyerang, bukan untuk menuntun. Kesalehan yang lebih kuat di kolom komentar daripada di kehidupan nyata.
Kita juga perlu mengakui bahwa TikTok memberi panggung luas pada “pendakwah baru” yang belum tentu punya otoritas ilmu. Ada yang memang alim dan punya sanad keilmuan, tetapi ada juga yang hanya pandai berbicara.
Ada yang benar-benar berdakwah, ada pula yang sekadar mengejar engagement. Kadang agama diperlakukan seperti konten hiburan: dibuat sedih agar viral, dibuat marah agar ramai, dibuat kontroversial agar ditonton ulang. Seolah-olah pahala bisa dihitung dari jumlah views.
Padahal dakwah bukan perlombaan trending. Dakwah adalah amanah. Ia bukan sekadar menyampaikan, tapi memastikan yang disampaikan tidak menyesatkan. Karena satu kesalahan dalam ceramah bisa menular ke ribuan orang, dan kesalahan yang viral jauh lebih sulit diluruskan daripada kesalahan yang terjadi di ruang kecil.
Di sisi lain, fenomena ini juga memunculkan “kultum potong kompas.” Ceramah ulama besar dipotong hanya bagian paling tajamnya, lalu disebarkan tanpa penjelasan utuh. Akhirnya, masyarakat tidak memahami maksud asli sang ulama, tapi keburu emosi. Ini seperti memotong obat dari resep dokter, lalu menelannya tanpa aturan. Bukannya sembuh, malah tambah sakit.
Namun, bukan berarti kultum TikTok harus dimusuhi. Kita hanya perlu membangun cara konsumsi yang lebih cerdas. Jika TikTok adalah pintu, maka jangan jadikan pintu itu sebagai rumah. Video pendek boleh menjadi pemantik, tapi jangan menjadi sumber utama.
Ia boleh menjadi pengingat, tapi jangan menggantikan proses belajar yang mendalam. Sebab ilmu agama itu seperti pohon: ia butuh akar kuat. Jika hanya tumbuh di permukaan, ia akan mudah roboh oleh angin perbedaan.
Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki kualitas belajar agama. TikTok bisa dipakai untuk mengingatkan, tapi setelah itu kita perlu bertanya: “Saya belajar ini dari siapa? Apa dalilnya? Apa pendapat ulama lain? Apakah konteksnya sesuai?” Pertanyaan semacam ini adalah tanda bahwa kita sedang menjaga akal sehat dalam beragama.
Mungkin inilah tantangan terbesar umat Islam modern: bukan kekurangan akses ilmu, tetapi kebanjiran informasi tanpa filter. Kita hidup di zaman di mana nasihat agama bisa datang lebih cepat daripada adzan. Tapi kecepatan bukan jaminan kebenaran. Karena agama bukan sekadar cepat sampai, tetapi tepat arah.
Kultum TikTok adalah fenomena zaman yang tak bisa dihindari. Ia bisa menjadi berkah jika digunakan sebagai jembatan menuju ilmu yang lebih luas. Tetapi ia juga bisa menjadi bahaya jika membuat kita merasa cukup dengan potongan-potongan pengetahuan. Sebab iman yang hanya dibangun dari video pendek akan mudah rapuh ketika diuji oleh masalah hidup yang panjang.
Baca juga
Ramadan mengajarkan kita untuk menahan lapar agar lebih bijaksana. Maka seharusnya Ramadan juga mengajarkan kita menahan diri dari konsumsi ilmu instan agar lebih dewasa dalam beragama.
Dalam urusan agama, yang kita butuhkan bukan hanya semangat yang cepat menyala, tetapi pemahaman yang pelan-pelan matang. TikTok boleh menjadi tempat kultum. Tapi jangan sampai iman kita ikut menjadi konten yang habis dalam sekali scroll.
***
*) Oleh : Ida Fauziyah, Guru MI Alam Al Azhar Sumberrejo, Bojonegoro.
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.


