TIMES BOJONEGORO, BOJONEGORO – Dulu, guru adalah sosok yang membuat kelas mendadak sunyi hanya dengan satu langkah kaki. Murid berdiri, menunduk, menata kata sebelum berbicara. Hari ini, pemandangan itu mulai menjadi artefak ingatan.
Banyak ruang kelas berubah seperti pasar digital: ramai, cepat, berisik, dan sering kehilangan sopan santun. Bukan karena murid terlahir kurang ajar, melainkan karena mereka tumbuh di ladang baru bernama media sosial, tempat etika sering kalah oleh sensasi, dan adab dikalahkan oleh algoritma.
Media sosial telah menjadi “sekolah kedua” bagi generasi muda. Sayangnya, kurikulum yang diajarkannya bukan tentang tata krama, melainkan tentang viral, popularitas, dan keberanian tampil tanpa filter.
Anak-anak belajar lebih cepat meniru gaya influencer daripada meneladani guru. Mereka hafal cara menyela dengan komentar sarkas, tetapi gagap saat diminta mengucap terima kasih dengan tulus. Jempol mereka lincah menari di layar, tetapi lidah mereka kaku saat harus berbicara dengan hormat.
Konten demi konten mengajarkan bahwa menyanggah orang tua adalah keren, membantah guru adalah tanda kritis, dan berbicara kasar adalah bentuk kejujuran. Padahal, kritik tanpa etika hanyalah kemarahan yang diberi mikrofon. Keberanian tanpa adab hanyalah keberingasan yang diberi panggung.
Tak sedikit murid kini memanggil guru seperti memanggil teman sebaya. Nada bicara kehilangan rem, sikap duduk kehilangan sopan, dan tatapan mata sering lebih sibuk menunduk pada gawai ketimbang menatap wajah orang yang mengajarinya membaca dunia. Guru tak lagi selalu dipandang sebagai sumber ilmu, melainkan sekadar “pengisi jam pelajaran” di antara dua sesi scrolling.
Ironisnya, semua ini terjadi bukan karena anak-anak benci pada guru, tetapi karena mereka sedang belajar dari panggung yang salah. Media sosial adalah guru yang tidak pernah tidur, tidak pernah lelah, dan tidak pernah memberi hukuman. Ia mengajar dengan cara paling efektif: lewat hiburan. Masalahnya, tidak semua hiburan membawa kebijaksanaan. Banyak yang justru menjual keberanian kosong, emosi instan, dan kebebasan tanpa tanggung jawab.
Di titik ini, guru berada di posisi yang sulit. Di satu sisi, mereka dituntut mendidik karakter. Di sisi lain, mereka harus bersaing dengan ribuan konten yang lebih menarik, lebih lucu, dan lebih provokatif. Papan tulis berhadapan dengan layar 6 inci yang menyala tanpa henti. Suara guru beradu dengan notifikasi yang tak pernah kehabisan baterai.
Ketika murid mulai kehilangan etika, sesungguhnya yang retak bukan hanya hubungan guru dan siswa, tetapi juga fondasi peradaban kecil bernama sekolah. Sebab adab bukan sekadar formalitas, melainkan rem sosial agar pengetahuan tidak berubah menjadi senjata. Ilmu tanpa etika ibarat pisau tajam di tangan anak kecil: berkilau, tetapi berbahaya.
Namun, menyalahkan murid semata adalah jalan pintas yang malas. Mereka hanyalah produk dari zaman yang memelihara kecepatan lebih dari kebijaksanaan. Orang tua sibuk bekerja, guru sibuk mengejar kurikulum, sementara gawai setia menemani anak 24 jam sehari. Dalam kekosongan itulah media sosial masuk sebagai pengasuh baru yang pandai menghibur, tetapi malas mendidik.
Sekolah pun sering terjebak pada target nilai dan ranking, lupa bahwa etika tidak lahir dari ujian pilihan ganda. Adab tumbuh dari keteladanan, dialog, dan konsistensi. Murid tidak belajar sopan dari ceramah panjang, tetapi dari cara guru diperlakukan, dari bagaimana sekolah menegakkan aturan dengan adil, dan dari bagaimana orang dewasa saling menghormati di depan mereka.
Mengembalikan etika murid bukan berarti memusuhi teknologi. Media sosial tidak perlu dibakar, cukup diajari cara dipakai dengan beradab. Literasi digital harus naik kelas: bukan hanya soal membedakan hoaks dan fakta, tetapi juga membedakan kritik dan hinaan, candaan dan penghinaan, kebebasan dan kebablasan.
Guru pun perlu dilindungi, bukan hanya dituntut. Sulit mengajarkan hormat jika profesi guru sendiri sering diperlakukan seadanya. Sulit menanamkan etika jika guru terus dipaksa menelan ketidakadilan dengan senyum administratif. Murid belajar bukan hanya dari kata, tetapi dari nasib yang mereka lihat.
Pertarungan hari ini bukan antara guru dan murid, melainkan antara nilai dan viralitas. Antara adab yang tumbuh pelan, dan konten yang meledak dalam semalam. Jika sekolah menyerah, maka media sosial akan sepenuhnya menjadi guru utama generasi ini guru yang tidak pernah mengajarkan cara menghormati, hanya cara terlihat.
Dan bila itu terjadi, kita mungkin akan melahirkan generasi yang cerdas berdebat, tetapi miskin empati; berani bicara, tetapi lupa mendengar; cepat menilai, tetapi lambat menghargai.
Di situlah pendidikan kehilangan ruhnya. Sebab tujuan belajar bukan hanya agar anak pandai berbicara, tetapi agar mereka tahu kapan harus diam, bagaimana cara menghormati, dan kepada siapa harus menundukkan ego.
***
*) Oleh : Ida Fauziyah, Guru MI Alam Al Azhar Sumberrejo, Bojonegoro.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |