TIMES BOJONEGORO, BOJONEGORO – Di layar ponsel, kehidupan tampak selalu indah. Hujan turun perlahan, tokoh utama berdiri termenung dengan mantel panjang, musik mengalun lirih, lalu cinta menemukan jalannya. Drama Korea, atau yang populer disebut drakor, tidak lagi sekadar tontonan. Ia telah menjelma menjadi referensi gaya hidup, bahkan rujukan cara merasa dan cara bermimpi bagi sebagian masyarakat urban Indonesia.
Fenomena ini tampak dalam hal-hal sederhana: cara berpakaian yang meniru aktor favorit, kebiasaan nongkrong di kafe dengan konsep minimalis, hingga cara memaknai hubungan romantis yang serba puitis dan penuh kejutan.
Tidak sedikit anak muda yang mengaku ingin memiliki hidup “seperti di drakor”, seolah kebahagiaan harus memiliki alur cerita, latar visual yang estetik, dan konflik yang selalu berakhir manis.
Pada satu sisi, tren ini dapat dibaca sebagai bentuk kreativitas budaya. Publik tidak lagi pasif mengonsumsi tontonan, tetapi aktif mengadaptasinya ke dalam kehidupan sehari-hari.
Mereka meramu gaya berpakaian, tata ruang kamar, cara memotret, bahkan cara berbicara. Media sosial menjadi panggung tempat “versi lokal” drakor dipertunjukkan, dengan filter, musik latar, dan potongan dialog yang dramatis.
Namun, di sisi lain, muncul persoalan yang lebih dalam. Ketika kehidupan nyata terus dibandingkan dengan narasi fiksi, realitas sering kali terasa mengecewakan. Hidup yang penuh keterbatasan ekonomi, pekerjaan yang monoton, dan relasi yang tidak selalu harmonis tampak kusam jika disandingkan dengan dunia drakor yang rapi dan romantis. Dari sinilah lahir rasa tidak puas yang samar, tetapi terus mengendap.
Banyak orang kemudian tidak lagi mencari makna hidup dari proses panjang, melainkan dari tampilan luar. Kebahagiaan diukur dari seberapa mirip hidupnya dengan potongan adegan serial.
Makan di warung biasa terasa kurang “bernilai” dibandingkan minum kopi di kafe yang fotogenik. Hubungan yang tumbuh perlahan dianggap kalah menarik dibanding cinta instan yang penuh drama.
Kondisi ini diperkuat oleh logika media sosial. Platform digital mendorong orang menampilkan versi terbaik dari dirinya, sering kali dengan meniru estetika drakor: senyum sendu, pose kesepian, atau caption tentang cinta yang terluka.
Kehidupan sehari-hari dikemas seperti episode serial, lengkap dengan konflik dan resolusi yang disederhanakan. Publik bukan hanya penonton, tetapi juga aktor dalam panggung digital yang tak pernah benar-benar tutup.
Masalahnya, kehidupan nyata tidak tunduk pada skenario. Tidak semua konflik berakhir bahagia, tidak semua cinta menemukan pasangannya, dan tidak semua kerja keras berbuah cepat. Ketika harapan dibangun di atas narasi fiksi yang serba ideal, kekecewaan menjadi risiko yang sulit dihindari. Sebagian orang mulai merasa hidupnya gagal hanya karena tidak seindah cerita di layar.
Di sinilah tren drakor berubah dari hiburan menjadi standar imajiner. Ia menciptakan ukuran kebahagiaan yang sempit: romantis, estetis, dan dramatis. Padahal, hidup manusia jauh lebih beragam. Ada kebahagiaan dalam kesederhanaan, ada makna dalam rutinitas, ada nilai dalam kesabaran yang tidak fotogenik.
Fenomena ini juga berdampak pada cara publik memandang relasi sosial. Hubungan pertemanan dan keluarga sering kalah menarik dibanding kisah cinta ala drama. Konflik kecil dibesar-besarkan agar terasa “dramatis”, sementara upaya menyelesaikan masalah secara dewasa justru dianggap kurang menarik. Realitas yang tenang kalah pamor dari konflik yang viral.
Bukan berarti drakor harus dijauhi. Ia adalah produk budaya yang sah dan, dalam banyak hal, berkualitas. Yang perlu dikritisi adalah cara publik menempatkannya sebagai cetak biru kehidupan. Ketika fiksi menjadi rujukan utama realitas, manusia berisiko kehilangan kepekaan terhadap hidupnya sendiri.
Pendidikan literasi media menjadi penting di titik ini. Publik perlu diajak memahami bahwa drama adalah hasil konstruksi: disunting, diskenariokan, dan dirancang untuk menggugah emosi. Ia bukan potret utuh kehidupan. Dengan kesadaran itu, drakor bisa dinikmati sebagai karya seni, bukan sebagai ukuran sukses atau bahagia.
Hidup tidak harus sinematik untuk bermakna. Tidak semua momen perlu latar musik, tidak semua kesedihan harus difoto, dan tidak semua kebahagiaan harus diumumkan. Ada nilai dalam hidup yang berjalan biasa, dalam kerja yang sunyi, dalam cinta yang tumbuh tanpa sorotan kamera.
Mungkin, di tengah banjir cerita indah dari layar, tantangan terbesar publik hari ini adalah keberanian untuk menerima bahwa hidupnya tidak seperti drakor, dan justru karena itulah ia nyata.
***
*) Oleh : Ida Fauziyah, Guru MI Alam Al Azhar Sumberrejo, Bojonegoro.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |