https://bojonegoro.times.co.id/
Opini

Belajar dengan Algoritma

Rabu, 21 Januari 2026 - 18:24
Belajar dengan Algoritma Ida Fauziyah, Guru MI Alam Al Azhar Sumberrejo, Bojonegoro.

TIMES BOJONEGORO, BOJONEGORO – Dulu, belajar identik dengan ruang kelas, papan tulis, dan suara guru yang kadang lebih keras daripada hujan di atap seng. Hari ini, belajar bisa terjadi sambil rebahan, ditemani notifikasi, dan disela video berdurasi 30 detik. 

Kita tidak lagi sepenuhnya belajar dari buku atau dosen, tetapi dari sesuatu yang tak kasatmata: algoritma. Ia tidak punya wajah, tidak mengenakan seragam pendidik, tetapi diam-diam mengatur apa yang kita baca, tonton, dan pahami tentang dunia.

Algoritma bekerja seperti pustakawan super sibuk yang tidak pernah kita temui. Ia memilihkan bacaan, menyodorkan video, merekomendasikan kursus, bahkan menentukan topik apa yang “layak” muncul di beranda kita. Bedanya, pustakawan biasanya netral dan beretika. Algoritma tidak. Ia tunduk pada satu tujuan utama: membuat kita betah berlama-lama di layar.

Di sinilah pembelajaran modern menemukan paradoksnya. Di satu sisi, akses pengetahuan menjadi sangat murah dan luas. Mahasiswa di desa bisa belajar kecerdasan buatan dari profesor MIT lewat YouTube. Pelajar SMA bisa memahami fisika kuantum dari TikTok berdurasi singkat. Kursus daring menjanjikan keterampilan baru hanya dengan modal kuota dan gawai.

Namun di sisi lain, algoritma tidak mengajar kita berpikir, melainkan mengajari kita bertahan dalam arus perhatian. Ia tidak peduli apakah kita memahami, yang penting kita terus menggulir. Pengetahuan disajikan seperti makanan cepat saji: cepat, gurih, tetapi sering kali miskin gizi intelektual.

Belajar pun berubah watak. Dari proses panjang yang penuh kesabaran menjadi pengalaman instan yang menuntut kepuasan cepat. Jika satu video terasa membosankan, tinggal geser. Jika satu materi terasa sulit, cari yang lebih ringan. Otak dilatih untuk melompat, bukan menyelam. Kita tahu banyak hal, tetapi dangkal. Kita hafal istilah, tetapi gagap menjelaskan.

Algoritma juga menciptakan ruang gema, echo chamber, tempat seseorang hanya bertemu dengan pandangan yang serupa dengan keyakinannya. Dalam konteks belajar, ini berbahaya. Pengetahuan seharusnya memperluas sudut pandang, bukan mengurungnya. Tetapi algoritma justru menyempitkan cakrawala, menyajikan dunia yang terasa seragam dan nyaman, seolah kebenaran hanya satu warna.

Tak jarang, mahasiswa atau pelajar lebih percaya pada konten kreator dibanding dosen atau buku teks. Bukan karena kontennya lebih benar, tetapi karena lebih menyenangkan. Pengetahuan diperlakukan seperti hiburan. Yang penting menarik, bukan akurat. Yang penting viral, bukan valid.

Kampus dan sekolah pun terdorong menyesuaikan diri. Materi pembelajaran dikemas seperti konten media sosial: ringkas, visual, mudah dibagikan. Tidak salah, tetapi berbahaya jika esensi berpikir kritis ikut dipangkas. Pendidikan bukan sekadar soal menarik perhatian, melainkan melatih ketekunan. Bukan hanya soal cepat paham, tetapi berani bergulat dengan yang sulit.

Di titik ini, algoritma menjadi guru tanpa kurikulum nasional, tanpa standar pedagogi, dan tanpa tanggung jawab moral. Ia tidak peduli apakah yang kita pelajari membebaskan atau justru menyesatkan. Ia hanya mengikuti pola klik, bukan etika pengetahuan.

Namun, menolak algoritma sepenuhnya juga mustahil. Ia sudah menjadi bagian dari ekosistem belajar modern. Yang dibutuhkan bukan perlawanan buta, melainkan literasi baru: literasi algoritmik. Kemampuan untuk memahami bahwa apa yang kita lihat bukan cermin realitas, melainkan hasil seleksi mesin.

Pelajar perlu diajari bahwa tidak semua yang muncul di layar adalah kebenaran, dan tidak semua yang viral adalah penting. Guru dan dosen perlu bertransformasi bukan menjadi saingan konten kreator, tetapi menjadi penuntun makna. Membantu siswa memilah, menguji, dan meragukan informasi.

Belajar dengan algoritma seharusnya seperti menggunakan pisau di dapur. Ia bisa membantu memasak, tetapi juga bisa melukai jika digunakan tanpa kehati-hatian. Algoritma bisa menjadi jembatan pengetahuan, tetapi juga jurang kebingungan.

Di tengah banjir informasi, tugas pendidikan bukan lagi sekadar memberi jawaban, melainkan mengajarkan cara bertanya. Bukan hanya mengisi kepala, tetapi melatih kesadaran. Karena di zaman ini, yang paling langka bukan informasi, melainkan kebijaksanaan memilih.

Jika ruang kelas kini pindah ke balik layar, maka tanggung jawab moral pendidikan justru semakin berat. Kita tidak hanya mendidik manusia yang cerdas, tetapi manusia yang tidak tersesat di labirin rekomendasi. Manusia yang mampu berkata, “cukup”, lalu kembali berpikir, bukan sekadar menggulir.

Algoritma boleh mengatur beranda, tetapi jangan sampai ia mengatur arah berpikir. Belajar seharusnya tetap menjadi perjalanan memahami, bukan sekadar rutinitas mengonsumsi. Di sanalah pendidikan mempertahankan martabatnya: bukan tunduk pada mesin, tetapi menggunakan mesin untuk memanusiakan manusia.

***

*) Oleh : Ida Fauziyah, Guru MI Alam Al Azhar Sumberrejo, Bojonegoro.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Bojonegoro just now

Welcome to TIMES Bojonegoro

TIMES Bojonegoro is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.