TIMES BOJONEGORO, BOJONEGORO – Hari ini, banyak siswa terlihat sibuk, tetapi tidak selalu bertumbuh. Jadwal mereka padat, tugas menumpuk, ujian datang silih berganti, namun ruang untuk benar-benar memahami diri, berpikir kritis, dan menikmati proses belajar justru makin sempit. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman untuk tumbuh, perlahan berubah menjadi arena lomba yang melelahkan.
Tekanan pada siswa tidak lahir dari satu sumber. Ia datang dari sistem pendidikan yang masih mengukur kecerdasan secara sempit, dari keluarga yang cemas akan masa depan anaknya, hingga dari lingkungan sosial yang menjadikan prestasi sebagai satu-satunya standar keberhasilan. Nilai rapor, peringkat kelas, dan skor ujian sering kali lebih penting daripada rasa ingin tahu, empati, atau kemampuan berpikir mandiri.
Di banyak sekolah, siswa dibentuk untuk patuh, bukan kritis. Mereka diajarkan cara menjawab soal, tetapi jarang diajak mempertanyakan mengapa sesuatu penting untuk dipelajari.
Kurikulum padat membuat belajar menjadi aktivitas mengejar target, bukan proses menemukan makna. Akibatnya, siswa terbiasa menghafal, tetapi gagap ketika diminta berpikir reflektif atau menyampaikan pendapat.
Tekanan ini semakin berat ketika dunia digital ikut masuk ke ruang kelas. Di satu sisi, teknologi membuka akses pengetahuan luas. Di sisi lain, ia mempercepat ritme belajar tanpa diimbangi kesiapan mental siswa.
Grup kelas yang tak pernah sepi, tugas berbasis daring, dan tuntutan selalu responsif membuat batas antara sekolah dan rumah menjadi kabur. Bahkan di rumah, siswa belum tentu benar-benar istirahat; pikiran mereka tetap tertambat pada tugas dan penilaian.
Tak sedikit siswa akhirnya mengalami kelelahan belajar. Mereka datang ke sekolah secara fisik, tetapi mentalnya absen. Belajar dilakukan sekadar menggugurkan kewajiban.
Ironisnya, kondisi ini sering disalahpahami sebagai kemalasan atau kurang disiplin. Padahal, bisa jadi itu adalah tanda kejenuhan struktural, bukan persoalan karakter pribadi.
Masalah lain yang jarang dibicarakan adalah hilangnya ruang aman bagi siswa untuk gagal. Kesalahan masih dipandang sebagai aib, bukan bagian dari proses belajar. Siswa yang nilainya rendah kerap distigma, dibandingkan, bahkan direndahkan, alih-alih didampingi. Padahal, kegagalan adalah guru paling jujur dalam pendidikan. Ketika siswa takut salah, mereka akan memilih aman, tidak berani mencoba, dan akhirnya kehilangan daya eksplorasi.
Sekolah juga sering lupa bahwa siswa bukan hanya “peserta didik”, tetapi manusia muda dengan emosi, keresahan, dan latar belakang yang beragam. Tidak semua siswa berangkat dari rumah yang tenang, ekonomi yang stabil, atau dukungan yang cukup.
Namun sistem pendidikan kerap memperlakukan mereka seolah berada di garis start yang sama. Ketimpangan ini membuat sebagian siswa tertinggal, bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak mendapat kesempatan yang adil.
Di tengah situasi ini, siswa dituntut untuk tetap berprestasi, berakhlak baik, aktif organisasi, dan siap bersaing di masa depan. Beban ekspektasi itu terlalu besar jika tidak diiringi dengan pendekatan pendidikan yang memanusiakan. Pendidikan seharusnya membantu siswa mengenali potensi dirinya, bukan sekadar menyesuaikan diri dengan sistem.
Maka, pertanyaan pentingnya bukan lagi “berapa nilai siswa”, melainkan “bagaimana kondisi siswa”. Apakah mereka merasa aman di sekolah? Apakah mereka diberi ruang untuk bertanya dan berbeda? Apakah belajar masih menjadi aktivitas yang bermakna, bukan sekadar rutinitas yang melelahkan?
Perubahan tidak bisa dibebankan pada siswa semata. Guru, sekolah, orang tua, dan negara memiliki peran besar. Guru perlu diberi ruang dan kepercayaan untuk mengajar secara reflektif, bukan sekadar mengejar administrasi.
Sekolah perlu membangun iklim belajar yang sehat, di mana dialog lebih dihargai daripada sekadar kepatuhan. Orang tua perlu melihat anak sebagai individu yang sedang bertumbuh, bukan proyek ambisi.
Lebih dari itu, kebijakan pendidikan harus berani bergeser dari orientasi hasil ke orientasi proses. Pendidikan yang baik tidak selalu menghasilkan siswa yang sempurna secara akademik, tetapi siswa yang utuh sebagai manusia. Mereka yang mampu berpikir, peduli, dan bertanggung jawab terhadap diri serta lingkungannya.
Siswa hari ini adalah wajah masa depan. Jika sejak dini mereka lelah, tertekan, dan kehilangan makna belajar, maka kita sedang membangun masa depan yang rapuh. Sudah saatnya sekolah kembali menjadi ruang tumbuh, bukan ruang takut. Tempat belajar yang tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menjaga kesehatan jiwa.
***
*) Oleh : Ida Fauziyah, Guru MI Alam Al Azhar Sumberrejo, Bojonegoro.
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |