TIMES BOJONEGORO, BOJONEGORO – Di ruang kelas, guru sering berdiri sebagai pusat perhatian. Ia membawa buku, silabus, dan daftar nilai. Namun, yang paling lama tinggal dalam ingatan murid bukanlah rumus, tanggal sejarah, atau definisi panjang, melainkan sikap kecil yang ia perlihatkan setiap hari. Cara ia berbicara, menepati janji, mengakui kesalahan, atau memperlakukan yang lemah semuanya diam-diam menjadi kurikulum yang tak tertulis.
Pendidikan kerap disempitkan menjadi proses transfer pengetahuan. Seolah tugas guru hanya memindahkan isi kepala ke kepala lain. Padahal, di balik papan tulis dan layar proyektor, berlangsung proses yang jauh lebih halus: pembentukan karakter. Di sanalah teladan bekerja, pelan tetapi menentukan arah.
Anak-anak belajar lebih cepat dari apa yang mereka lihat ketimbang apa yang mereka dengar. Nasehat tentang kejujuran akan terdengar kosong jika guru memanipulasi nilai. Ceramah tentang disiplin akan kehilangan makna jika ia sendiri datang terlambat. Kata-kata bisa dilupakan, tetapi contoh hidup menempel seperti bayangan.
Di era ketika otoritas mudah dipertanyakan, guru tak lagi cukup mengandalkan status. Hormat tidak turun otomatis dari jabatan, ia tumbuh dari konsistensi. Murid hari ini kritis, bahkan sinis. Mereka membaca ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan dengan ketajaman yang sering diremehkan. Satu sikap kasar bisa menghapus sepuluh pelajaran tentang etika.
Ironisnya, sistem pendidikan sering menempatkan guru dalam posisi yang nyaris mustahil. Administrasi menumpuk, target kurikulum mengejar, kesejahteraan tak selalu layak. Dalam kelelahan itu, teladan menjadi beban tambahan, bukan panggilan. Guru dipaksa menjadi manusia sempurna di tengah struktur yang jauh dari adil.
Namun, justru di ruang sempit itulah teladan menemukan maknanya. Ia tidak selalu hadir dalam tindakan heroik, tetapi dalam keputusan sehari-hari yang sederhana: tetap adil meski lelah, tetap sabar meski diremehkan, tetap jujur meski tak diawasi. Teladan adalah bentuk keberanian paling sunyi.
Sekolah sering sibuk merancang program pendidikan karakter, memasangnya dalam modul, dan mengujinya lewat soal pilihan ganda. Tetapi karakter tidak tumbuh dari hafalan. Ia tumbuh dari perjumpaan dengan figur nyata yang menunjukkan bahwa nilai bukan sekadar teori, melainkan cara hidup.
Ketika seorang guru berani meminta maaf kepada murid karena salah, ia sedang mengajarkan kerendahan hati lebih kuat daripada seribu definisi. Ketika ia membela murid yang dirundung, ia sedang menanamkan keberanian moral yang tak tertulis di rapor. Ketika ia menolak amplop atau titipan nilai, ia sedang memperlihatkan bahwa integritas bukan slogan, melainkan pilihan yang kadang menyakitkan.
Teladan juga bekerja lintas waktu. Murid mungkin lupa isi pelajaran, tetapi akan mengingat wajah guru yang mempercayainya saat semua meragukan. Dari sanalah kepercayaan diri tumbuh. Dari sanalah keberanian mencoba lahir.
Di tengah banjir konten digital, figur publik instan, dan nilai-nilai yang sering kabur, guru tetap menjadi salah satu referensi moral terdekat bagi banyak anak. Ia mungkin tidak viral, tetapi pengaruhnya menetap. Ia tidak selalu dielu-elukan, tetapi jejaknya membentuk cara seseorang memandang dunia.
Sayangnya, kita terlalu sering mengukur guru dari hasil ujian dan peringkat sekolah. Jarang kita bertanya: nilai apa yang sedang ia tanamkan tanpa kata? Apakah ia sedang mengajarkan empati, atau justru menormalisasi kekerasan simbolik? Apakah ia sedang menumbuhkan keberanian berpikir, atau sekadar kepatuhan tanpa nalar?
Mengajarkan teladan bukan berarti guru harus tanpa cela. Justru dengan mengakui keterbatasan, ia menunjukkan bahwa menjadi manusia utuh adalah proses, bukan citra. Murid tidak membutuhkan malaikat, mereka membutuhkan manusia dewasa yang jujur pada dirinya sendiri.
Di titik ini, pendidikan menemukan makna terdalamnya: bukan mencetak generasi yang hanya pintar menjawab soal, tetapi generasi yang tahu bagaimana bersikap ketika tidak ada soal, tidak ada pengawas, dan tidak ada nilai yang dipertaruhkan.
Kelas bukan hanya tempat belajar membaca dunia, tetapi juga belajar menjadi manusia di dalamnya. Dan dalam pelajaran itu, guru adalah teks utama yang terus dibaca, ditafsirkan, dan ditiru sadar atau tidak.
Jika suatu hari murid-murid tumbuh menjadi pribadi yang adil, berani, dan berempati, mungkin mereka tidak akan menyebut nama gurunya dalam pidato. Tetapi di setiap keputusan sunyi yang mereka ambil, di sanalah teladan itu hidup, bekerja, dan meneruskan dirinya sendiri.
***
*) Oleh : Ida Fauziyah, Guru MI Alam Al Azhar Sumberrejo, Bojonegoro.
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |