TIMES BOJONEGORO, BOJONEGORO – Pendidikan di Indonesia hari ini berjalan nyaris tanpa jeda. Setiap pagi sekolah dibuka, guru mengajar, siswa duduk rapi di kelas, kurikulum dijalankan, laporan disusun, dan angka-angka capaian dilaporkan.
Dari luar, semuanya tampak normal. Bahkan sering dipamerkan sebagai kemajuan. Namun jika ditelisik lebih dalam, ada satu hal yang perlahan menghilang dari ruang-ruang kelas kita: daya pikir kritis.
Sekolah dan kampus semakin sibuk, tetapi tidak selalu semakin bermakna. Pendidikan direduksi menjadi rutinitas administratif. Yang dinilai bukan lagi sejauh mana peserta didik memahami realitas, melainkan seberapa lengkap dokumen disusun dan seberapa patuh satuan pendidikan terhadap regulasi. Akibatnya, pendidikan tampak hidup, tetapi sejatinya kehilangan ruh.
Kita terlalu lama memuja hasil, tetapi abai pada proses. Nilai rapor, ranking, akreditasi, hingga sertifikat menjadi tujuan akhir. Sementara proses berpikir bertanya, meragukan, mengkritik, dan mencari makna dianggap mengganggu ketertiban. Siswa yang terlalu banyak bertanya sering dicap tidak sopan. Mahasiswa yang kritis dicurigai. Guru yang keluar dari pakem kerap dianggap merepotkan sistem.
Ironisnya, di saat dunia bergerak cepat dengan tantangan kompleks krisis iklim, disrupsi teknologi, polarisasi sosial pendidikan kita justru sibuk membentuk generasi yang patuh, bukan generasi yang paham. Padahal, masa depan tidak membutuhkan penghafal yang taat prosedur, melainkan pemikir yang berani mengambil keputusan.
Kurikulum sering berganti, tetapi paradigma nyaris stagnan. Setiap perubahan kebijakan selalu diklaim sebagai solusi, padahal yang berubah sering kali hanya istilah.
Inti persoalannya tetap sama: pendidikan belum sungguh-sungguh memanusiakan manusia. Ruang kelas masih menjadi tempat transfer pengetahuan satu arah, bukan arena dialog dan pencarian makna.
Guru pun terjebak dalam dilema. Di satu sisi dituntut profesional dan inovatif, di sisi lain dibebani administrasi yang melelahkan. Energi yang seharusnya digunakan untuk merancang pembelajaran bermakna justru habis untuk mengisi laporan, unggah platform, dan mengejar target formal. Guru akhirnya bertahan, bukan bertumbuh.
Sementara itu, peserta didik tumbuh dalam tekanan. Mereka diajarkan untuk lulus, bukan untuk paham. Untuk mengejar nilai, bukan untuk menemukan jati diri. Tidak heran jika banyak lulusan cerdas secara akademik, tetapi gagap menghadapi realitas sosial. Pintar menjawab soal, tetapi bingung membaca kehidupan.
Lebih memprihatinkan lagi, pendidikan mulai bergeser menjadi komoditas. Sekolah unggulan dipamerkan seperti etalase. Biaya tinggi sering disamarkan dengan istilah kualitas. Akses pendidikan yang seharusnya menjadi hak justru terasa seperti privilese. Ketimpangan pun direproduksi secara halus melalui sistem yang tampak rapi.
Di sinilah kritik menjadi penting. Pendidikan tidak boleh steril dari keberanian untuk bertanya: untuk siapa pendidikan ini dijalankan? Apakah sekolah hadir untuk mencerdaskan, atau sekadar menyesuaikan diri dengan logika pasar dan birokrasi?
Pendidikan sejatinya adalah proses pembebasan. Ia harus memberi ruang bagi peserta didik untuk memahami dunia dan posisinya di dalamnya. Paulo Freire pernah mengingatkan, pendidikan yang hanya menjejalkan pengetahuan tanpa kesadaran kritis akan melahirkan manusia yang mudah dikendalikan. Peringatan itu terasa semakin relevan hari ini.
Kita membutuhkan keberanian untuk menggeser orientasi pendidikan: dari sekadar kepatuhan menuju kesadaran, dari hafalan menuju pemahaman, dari ketertiban semu menuju keberanian berpikir. Sekolah dan kampus harus kembali menjadi ruang aman bagi pertanyaan, bukan hanya jawaban.
Tentu perubahan ini tidak sederhana. Ia menuntut keberanian pembuat kebijakan untuk mendengar suara di bawah, kepercayaan kepada guru sebagai pendidik, serta komitmen lembaga pendidikan untuk tidak terjebak pada citra semata. Pendidikan tidak bisa dibenahi hanya dengan regulasi baru, tetapi dengan perubahan cara pandang.
Jika pendidikan terus dibiarkan berjalan seperti sekarang rapi di atas kertas, tetapi rapuh dalam makna kita berisiko melahirkan generasi yang asing terhadap realitasnya sendiri. Generasi yang sibuk mengejar legitimasi formal, tetapi kehilangan keberanian moral dan intelektual.
Pendidikan seharusnya menjadi ruang tumbuhnya akal sehat, empati, dan tanggung jawab sosial. Bukan pabrik kepatuhan, bukan pula arena perlombaan simbolik. Sudah saatnya kita jujur mengakui: yang perlu dibenahi bukan hanya sistem pendidikan, tetapi cara kita memaknai pendidikan itu sendiri.
Tanpa keberanian untuk bersikap kritis hari ini, pendidikan hanya akan menjadi rutinitas panjang yang melelahkan aktif, tetapi kehilangan arah. (*)
***
*) Oleh : Ida Fauziyah, Guru MI Alam Al Azhar Sumberrejo, Bojonegoro.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |